Berita Terkini :
Home » » Manusia sebagai Insan Politik

Manusia sebagai Insan Politik

Written By kompi on Wednesday, 29 May 2013 | 5/29/2013 12:23:00 pm


Riza Maula Riefky

Siang itu terasa membosankan. Tak ada aktifitas yang bisa kukerjakan selain mondar-mandir keluar-masuk rumah atau sekedar nonton TV. Mungkin karena kurang kerjaan itulah, muncul niat isengku untuk membuka-buka buku pelajaran SMA dulu.
Sebuah buku sebesar majalah, tak begitu tebal, kurang dari 150 halaman membuatku terhenti. Rupanya, buku berjudul “Kewarganegaraan, menuju Masyarakat Madani” itu berhasil menarik perhatianku.
Sambil melempar ingatan ke masa SMA dulu, kubuka lembar demi lembarnya, kunikmati gambar-gambarnya. Tiga laki-laki paruh baya mengenakan rompi merah bata bertulis “Pemilu 2004 KPU DKI Jakarta” di bagian punggungnya menjadi gambar sampul yang cukup mewakili judul buku itu.
Di halaman depan, terpapar bagan yang menggambarkan isi buku. Di halaman berikutnya, tersaji daftar materi pokok pelajaran. Pelajaran pertama tentang hakikat bangsa dan negara tidak cukup membuatku tertarik. Pelajaran kedua tentang nilai dan norma kulewati. Pelajaran ketiga membahas penegakan HAM juga kulewati. Pada pelajaran keempat berjudul Masyarakat Politik, aku mulai tertarik lagi. Dengan cepat aku menyisir lembar-lembar buku menuju halaman dimana bab itu dibahas.
Disana dijelaskan bahwa manusia memiliki sifat alamiah untuk hidup berkawan atau bertentangan dengan sesama manusia lainnya. Sifat ini mendorong manusia untuk membentuk kelompok-kelompok. Kita tahu bahwa sejak zaman purba, manusia sudah hidup berkelompok. 
Dalam kelompok-kelompok tersebut, tidak hanya terjadi kerjasama, tetapi juga pertentangan. Ada juga aktifitas saling mempengaruhi untuk mencapai kesepakatan jika terjadi pertentangan. Pada setiap kelompok, umumnya ada satu orang yang berpengaruh paling besar dalam menentukan keputusan dan membuat aturan-aturan yang mengikat seluruh anggota kelompok. Orang yang memainkan peran ini kemudian disebut ketua, kepala, atau pemimpin. Begitulah manusia, memiliki kebutuhan untuk berserikat dan mengatur perserikatannya demi terpenuhi kepentingannya. Karena alasan itu pula, manusia disebut insan politik.
 Jika dikaitkan dengan kehidupan dewasa ini, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa setiap warga negara adalah insan politik. Jadi, predikat insan politik tidak hanya melekat pada mereka yang memangku jabatan di pemerintahan atau berkiprah di parpol. Adanya jabatan presiden, menteri-menteri, dan pejabat pemerintahan lainnya, serta pengurus partai politik adalah suatu cara yang ditempuh manusia untuk mengatur kelompok besarnya yang disebut negara.
Jabatan-jabatan tersebut adalah peran sosial yang harus dimainkan demi kelangsungan negara sama halnya dengan peran sosial sebagai warga sipil. Setiap peran sosial berhak dan berkewajiban terlibat dalam penentuan kebijakan. Hubungan yang terjadi dalam sistem sosial bukanlah hubungan antar individu, melainkan antar peran sosial. Unsur-unsur yang bermain bukanlah aku, kamu, atau dia, melainkan presiden, bupati, ketua parpol, ketua LSM, warga sipil, seniman, buruh, dan lain sebagainya (M. Sobary, 2007).
Kesadaran akan mausia sebagai insan politik ini semakin jauh dari kenyataan masyarakat Indonesia. Tidak perlu jauh-jauh mengalamatkannya pada masyarakat sipil, seperti buruh pabrik dan petani. Di kalangan mahasiswa yang merupakan masyarakat terdidik pun kesadaran sebagai insan politik semakin tak tampak.
Mahasiswa tanpa mengetahui apa-apa menghakimi bahwa politik itu barang najis. Tanpa mau membaca, mengartikan politik sebagai kepentingan berkuasa belaka. Akhirnya, berpandangan sempit mengartikan berpolitik berarti bergabung dengan parpol atau menjadi Caleg, Cabup. Cagup, atau Capres. Entah apa sebabnya, yang jelas akibatnya sangat buruk bagi kehidupan bernegara di Republik ini. Pemahaman akan politik yang salah kaprah ini juga mungkin yang menyebabkan suksesi kepemimpinan di negeri ini selalu gagal memperoleh pemimpin yang diidamkan.
“…meskipun dalam ranah publik pengaruh saya tidak begitu kuat, karena saya memiliki hak untuk memilih para penguasa, saya merasa berkewajiban untuk mengamati dan mempelajari jalannya pemerintahan dan kekuasaan mereka.
Ketika saya mengamati kinerja pemerintahan, saya merasa senang karena apa yang saya kehendaki dijalankan dengan semestinya. Dengan demikian saya pun selalu memiliki alasan untuk mencintai negara saya (J.J.Rousseau, 2007)”. Kutipan tersebut saya sajikan sebagai penutup tulisan ini. Semoga bisa menjadi bahan renungan yang bermanfaat.  (*)
Share this post :
 
Support : Copyright © 2013. Kompi - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Much Harun
Proudly powered by Blogger