Berita Terkini :
Kompi.org. Powered by Blogger.

Memahami Perkembangan Intelektual Anak

Judul                  : Perkembangan Peserta Didik
Penulis               : Syamsu Yusuf dan Nani M. Sugandhi
Cetakan             : Ke-4, April 2013
Penerbit             : PT Raja Grafindo Persada Jakarta
Jumlah               : XII 153 Halaman
ISBN                 : 978-979-769-329-9
e-mail                : rajapers@rajagrafindo.co.id

Setiap manusia mempunyai pengetahuan intelektual yang berbeda-beda, mulai duduk di SD sampai perguruan tinggi. Dengan mempunyai intelektual masing-masing bisa memanfaatkan daya dan upaya yang dilakukan dengan baik.
Buku ini mengulas tentang intelektualitas peserta didik yang bisa berpikir di dunianya, dalam hal pendidikan sampai dunia keluarga yaitu pernikahan diawal remaja. Karena disadari atau tidak, setiap individu akan terus erkembang (berubah) yang dipengaruhi oleh pengalaman (belajar) sepanjang hidupnya.
Perkembangan, baik fisik maupun psikis berlangsung secara terus-menerus sejak masa konsepsi sampai mencapai kematangan atau masa tua (hal. 4). Ini menunjukkan bahwa manusia setiap masa-kemasa hidupnya harus berkembang dalam segala hal, termasuk pendidikan, fisik, bahasa, emosi, sosial, pengalaman dan sebagainya.
Usia dini merupakan masa perkembangan dan pertumbuhan yang sangat menentukan perkembangan masa selanjutnya. Para ahli menyimpulkan, pendidikan anak sejak usia dini dapat memperbaiki prestasi dan meningkatkan produktivitas kerja masa dewasa (hal. 47). Siswa, di masa perkembangan (pertumbuhan) bisa menghasilkan karakter yang lebih baik ketimbang yang sudah usia lanjut.
Pada usia sekolah dasar, anak sudah dapat mereaksi rangsangan intelektual, atau melaksanakan tugas-tugas belajar yang menuntut kemampuan intelektual atau kemampuan koknitif (seperti membaca, menulis, dan menghitung (Calistung).
Sebelumnya, yaitu masa prasekolah, daya pikir anak masih bersifat imajinatif, berangan-angan (berhayal), sedang di usia SD/MI daya pikiran sudah berkembang ke arah berpikir konkret dan rasional (hal. 61), yang menunjukkan sudah memiliki daya angan yang rasional dengan adanya kemampuan afektifnya.
Masa dewasa awal dikatakan sebagai masa muda. Terminologi ini seperti ditulis Kenniston (Santrock dalam Chusaini, 1995: 73) yang berpendapat bahwa masa muda merupakan periode transisi antara masa remaja dan masa dewasa. Ia merupakan masa perpanjangan kondisi ekonomi dan pribadi yang sementara.
Kenniston mengemukakan dua kriteria penting, untuk menunjukkan permulaan dari masa dewasa awal, yaitu kemandirian keputusan yang dimaksud adalah keputusan yang terkait dengan penyelesaian studi dan pilihan pekerjaan, yang tentunya tak lepas dari keputusan dalam menghadapi kesiapan diri untuk menikah dan hidup berkeluarga. (*)

Maftuhan, santri Pondok Pesantren An-Nur, Jekulo, Kudus 

Sepenggal Kisah Tentang Maulana

Nor Khalim

Sebaik-baik manusia adalah mereka yang berguna bagi sesamanya. Untaian kata mutiara ini begitu melekat di benakku. Sebuah kalimat yang sangat ampuh menggelorakan semangatku ikut berkiprah terus mencerdaskan kehidupan anak bangsa.
Tiga bulan pertama sejak aku menjejakkan kaku bertugas di SD Negeri Krueng Kala, Kabupaten Aceh Besar, lengkap dengan segala intrik dan problematikanya. Aku masih terus berjuang mempertahankan idealismeku yang aku bawa ribuan mil jauhnya untuk tetap bertahan.
Aku masih berusaha datang ke sekolah tepat waktu di kala guru lain selalu terlambat. Aku selalu berusaha berada di kelas, sementara guru lain asyik memperbincangkan orang lain di kantor pada jam pelajaran.
Ya, aku selalu berusaha sekuat tenaga mengisi kelas-kelas yang terabaikan, meski terkadang terasa berat melawan rasa lelahku. Namun senyum anak-anak di SD tempat aku mengajar di ujung Barat Indonesia, inilah yang memberiku kekuatan terus bertahan mengisi kelas kosong, bahkan meski harus merangkap mengisi kekosongan di kelas lain.
Tiga bulan pertama berlalu. Kendati agak terlambat, aku mulai menata dan menetapkan targetku. Sederhana saja. Yaitu membuat kelas 4, 5 dan 6 hafal perkalian. Sementara kelas 1, 2 dan 3 bisa membaca, menulis, dan berhitung (calistung).
Tepat di saat aku mulai mengejar target tersebut, seorang murid pindahan dari Kabupaten Bireun dating: Rahmat Maulana. Rahmat panggilan akrab di sekolah sebelumnya. Namun karena ada tiga Rahmat di sekolah tempatku mengajar, maka aku putuskan memanggilnya Maulana atau Lana.
Maulana duduk di kelas tiga yang hanya memiliki tiga murid. Salah satunya penyandang tuna wicara. Mulanya Maulana kurang ekspresif. Padahal anak seusianya, biasanya penuh keceriaan dan aktif. Ekspresi mukanya seringkali terlihat datar.
Hingga pada suatu ketika Maulana mengikuti mata pelajaran sains yang diampu sang wali kelas, Nurjannah. Wali kelas tiga itu menjelaskan panjang lebar, dan kemudian kemudian meminta anak didiknya mengerjakan soal.
Saat waktu mengerjakan soal selesai, anak-anak diminta mengumpulkan pekerjaanya, tetapi Maulana hanya mengumpulkan salinan soal di buku dengan tulisan yang bisa dibilang sangat kacau untuk ukuran siswa kelas tiga.
Nurjannah, sang guru pun meminta Maulana maju dan membaca soal yang ada di papan tulis. Tak sepatah kata pun keluar dari mulutnya. Ia hanya berdiri mematung dengan ekspresi datarnya. Usai pelajaran, wali kelas itu pun membeberkan kejadian tersebut ke semua guru di kantor.
Semua guru menanggapi sinis: ”Apa itu nilai di raport tujuh sama delapan semua. Abjad saja nggak hafal. Kek mana itu sekolahnya yang dulu,” ujar salah seorang guru. “Maulana itu Anak Berkebutuhan Khusus (ABK),’’ timpal kepala sekolah. ‘’Dia anak inklusi. Umur lima tahun baru bisa ngomong. Makanya dia seperti itu, kek mana bisa baca – tulis! A, B, C saja dia nggak hafal, lanjutnya.
Salah seorang guru yang pernah mengikuti pelatihan penanganan ABK berujar: “Oh…nggak bias, bu, seperti itu. Kalau dia benar ABK raportnya harus beda sama anak yang lain. Nilai tujuhnya anak ABK beda sama nilai tujuh anak biasa.”
Perdebatan tentang status Rahmat Maulana pun semakin pelik. Aku yang tidak dibekali pendidikan menangani ABK pun hanya menyimak dengan tanda tanya besar di kepala: Apa yang dimaksud anak inklusi? Atas kategori apa seorang anak bisa diklasifikasikan anak inklusi? Bagaimanakah penanganan anak inklusi?’’
Hari berikutnya Maulana datang ke sekolah. Nurjannah kemudian memintanya maju untuk menulis abjad. Dia berusaha keras mengingat semua abjad, namun hanya beberapa saja yang terlintas di benaknya.
Hari berikutnya masih sama. Hingga pekan-pekan berikutnya akhirnya ia malas masuk sekolah. Dalam sepekan ia masuk tiga atau empat kali. Aku prihatin melihat nasib Maulana. Bukannya mendapat perlakuan istimewa karena kekurangannya, melainkan trauma psikis karena harus dipermalukan di depan teman-temannya. Sedang para guru tetap acuh dan sinis terhadapnya.
Entah sudah berapa hari Maulana bolos sekolah. Aku tak tahu pasti. Dan hari di mana aku lihat ia berangkat sekolah, aku langsung memanggilnya. Aku mengajaknya masuk kelas di saat semua siswa sedang asyik bermain di jam istirahat.
“Maulana mau naik kelas kan?” ucapku sembari memandangnya yang masih nampak malu-malu.
“Mau,” jawabnya singkat.
“Maulana mau, kan, nanti pulang sekolah ke rumah ibu. Kita belajar membaca bersama,” rayuku yang kemudian hanya dia jawab dengan anggukan.
Aku tersenyum. Aku bersyukur karena semangat belajarnya masih tetap ada, meski kerap kali dihina dan dilecehkan teman-temanya.
Hampir pukul 14.00. Aku baru saja selesai menyampaikan pelajaran tambahan untuk kelas 4, 5 dan 6. Saat hendak pulang, Maulana menyapaku. Mungkin dia sudah menunggu.
Setelah belajar keras, dalam waktu tak kurang dari tiga bulan ia sudah mampu membaca dan menulis, meski masih mengalami kesulitan karena kosakata dalam bahasa Indonesia yang ia kuasai masih terbatas.
Sering kali kami kesulitan berkomunikasi lantaran Maulana masih sulit berbicara berbahasa Indonesia. Pelajaran membaca dan menulis kini sedikit lebih ringan, karena ia sudah bisa membaca meski masih terbata- bata. Aku coba pelajaran berhitung. Aku pun terkejut saat kudapati Maulana mampu berhitung. Bahkan ia hafal perkalian sampai angka tujuh.
Rahmat Maulana, ABK, inklusi ataukah cerdas istimewa? Aku tak peduli apa pun itu. Yang jelas, dia sudah menunjukan bahwa dia mampu dan dia bisa sama sebagaimana temannya yang lain. Dia hanya butuh ruang belajar tanpa rasa cemas dan takut dihina temannya. (*)

Nor Khalim,
Peserta program SM3T dengan penempatan di SD Negeri Krueng Kala, Kabupaten Aceh Besar

Google Students Ambassador Narasumber GAFE Unila

Lampung, kompi.org – Salah satu rangkaian Creology Week 2014, Pers Mahasiswa Pilar Ekonomi Universitas Lampung (Unila) menggelar Training Google Application for Education (GAFE) pada Jumat (19/9/2014) lalu.
Dilangsungkan di Gedung D 101 FEB Unila, kegiatan ini bertujuan memperkenalkan aplikasi Google untuk pendidikan. “Sebelumnya kami menggelar lomba esai, lomba foto, bazar hingga festival musik untuk mendukung ekonomi kreatif. Kini kami menggandeng Google Student Group Unila dalam pelatihan ini,”  ujar Gita Leviana Putri, Pemimpin Umum Pilar Ekonomi Unila.
Selain pelatihan ini, Pers Mahasiswa Pilar Ekonomi juga menggelar pelatihan jurnalitik mahasiswa tingkat dasar yang diikuti Pers Mahasiswa se-Lampung. ‘’Untuk GAFE, narasumber yang hadir yaitu Rizki Kesuma Putra, Google Students Ambassador 2014. Sebelumnya, Rizki sempat mewakili Indonesia di Filiphina berkumpul dengan Ambassador Google lainnya.’’
Rizki berharap, para peserta terinspirasi untuk mengeskplorasi lebih banyak manfaat dari produk-produk GAFE yang memang gratis. “Dengan begitu kita bisa memberikan suatu pergerakan lebih dalam untuk mendukung perkembangan dunia pendidikan,” ungkapnya. (A. Neira)

Suharyanto Rilis “Glosarium Istilah Perpustakaan”

Jakarta, kompi.org – Pustakawan Perpustakaan Nasional RI, Suharyanto, merilis buku terbarunya berjudul “Glosarium Istilah Perpustakaan” yang diterbitkan FAM Publishing, September 2014 ini.
Penyandang predikat pustakawan berprestasi peringkat pertama Tingkat Nasional tahun 2012 itu menyebutkan, buku-buku terkait ilmu perpustakaan terutama mengenai glosarium dan sejenisnya di Indonesia, masih belum banyak.
“Buku glosarium ilmu perpustakaan ini berisi istilah-istilah tentang perpustakaan dan  bidang lain yang terkait seperti arsip, dokumentasi, dan informasi. Buku jenis ini masih langka,” ujar Suharyanto, Minggu (28/9/2014).
Dia mengemukakan, buku karyanya dimaksudkan sebagai rujukan bagi pustakawan, mahasiswa, pengajar, dan praktisi di bidang ilmu perpustakaan dan informasi, serta dapat digunakan kalangan umum untuk referensi.
“Ini upaya menambah khasanah keilmuan, khususnya Ilmu Perpustakaan dan Informasi,  menambah koleksi perpustakaan terutama koleksi jenis rujukan, dan meningkatkan gerakan literasi Indonesia,” ungkapnya.
Lahir di Jakarta 1 November 1969, Suharyanto adalah Pustakawan Madya pada Pusat Pengembangan Koleksi dan Pengolahan Bahan Pustaka, Perpustakaan Nasional RI. Ia menempuh pendidikan D2 Ilmu Perpustakaan IPB, S1 Ilmu Perpustakaan Universitas Padjadjaran, dan S2 Ilmu Perpustakaan Universitas Gadjah Mada (UGM).
Kariernya diawali di Perpustakaan Daerah Timor Timur (1993) lalu pindah di Perpustakaan Nasional RI (2000). Selain menjadi pustakwan, ia juga mengajar di Pusat Pendidikan dan Pelatihan Perpustakaan Nasional RI.
Selain itu, putra pasanga Soemarto dan Sukinah ini juga sering menjadi narasumber diskusi, seminar, maupun workshop. Di sela-sela kesibukannya, ia aktif menulis artikel, antara lain di Majalah Visi Pustaka, Media Pustakawan, Academia.edu serta menyusun berbagai pedoman/standar/pedoman perpustakaan. (A. Neira)

UMK – GBM Gelar RTD Ketahanan Pangan

Kudus, kompi.org – Fakultas Pertanian Universitas Muria Kudus (UMK) bekerjasama dengan dan Rumah Sehat Griya Balur Muria (GBM) menggelar roundtable discussion di Gedung Djarum Foundation UMK, Sabtu (27/9/2014).
Kegiatan yang mengusung tema ‘’Optimalisasi Potensi Vegetasi Lokal dalam Mewujudkan Kedaulatan Pangan dan Obat-obatan''  ini digelar dalam rangka merespons komitmen Jokowi – JK yang tak lama lagi dilantik sebagai pasangan presiden dan wakil presiden.
Roundtable discussion ini dibuka rektor UMK Dr. Suparnyo MS dan dihadiri peserta antara lain dari Kudus, Semarang, dan Yogyakarta. Narasumber, Prof. Budi Widianarko (rektor Unika Soegijopranoto), Prof. Sutiman B Sumitro MS. D.Sc (pakar nano biologi Universitas Brawijaya), Prof. Dr. Drh. Kasiat Adhi Suswanto M.Si (praktisi pengembangan tanaman lokal), dan Ir. Supari M.Si (dosen Fakultas Pertanian UMK). (A. Neira)

Santri Diminta Jadi Penerang Umat


Jepara. Kompi.org - Ketua Pengurus Cabang Persatuan Pengasuh Pondok Pesantren Salafiyah Kaffah (P4SK) Kabupaten Jepara, Kiai Nurul Musyafa’ meminta para santri jadi penerang masyarakat, surujud dunya.
Hal itu disampaikannya usai mujahadah Nihadlul Mustaghfirin yang berlangsung di musholla Baiturrohman desa Margoyoso kecamatan Kalinyamatan kabupaten Jepara, Rabu malam (24/9/2014). “Kita mesti prihatin karena kiai-kiai sepuh banyak telah wafat, dari desa hingga di tingkat nasional hingga kiai di desa,” ujarnya.
Ia menyebut beberapa nama kiai sepuh yang sudah lebih dulu menghadap Ilahi, antara lain KH Sahal Mahfudz dan KH Idris Marzuqi. “Saat khutbah Jum’at sempat meneteskan air mata karena kehilangan KH Muchlisul Hadi (Rais Syuriah MWC NU Kalinyamatan) dan KH Ahmad Kholil (Rais Syuriah PCNU Jepara),” tuturnya.
Kiai Nurul menyebut, kiai-kiai itu telah menjadi penuntun dan pemberi teladan. ‘’Ssusah mencari penggantinya sepeninggal beliau-beliau. Melalui mujahadah ini, semoga di masa depan banyak santri yang jadi penerang umat,’’ harapnya. (Mustaqim) 
 
Support : Copyright © 2013. Kompi - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Much Harun
Proudly powered by Blogger