Berita Terkini :
Kompi.org. Powered by Blogger.

Halalbihalal dan Diskusi Penulisan

Sumatera Barat, kompi.org - Di Kota Padang, Sumatera Barat, Minggu (24/8/2014) lalu, pengurus dan anggota FAM Wilayah Sumatera Barat menggelar halalbihalal, di kediaman Muhammad Fadhli di Perumahan Villa Mahameru, Belimbing, Kuranji, Padang. Hadir sejumlah pengurus dan anggota FAM Sumatera Barat.
Koordinator FAM Wilayah Sumatera Barat Denni Meilizon mengatakan, acara tersebut berjalan lancar dengan agenda diskusi seputar menulis novel. “Kebetulan beberapa anggota FAM Sumatera Barat sedang menulis novel, jadi kami fokuskan pembicaraan di seputar novel,” kata Denni yang juga penulis buku puisi “Kidung Pengelana Hujan”.
Selain itu, tambah Denni, juga dibahas sejumlah program kerja FAM Wilayah Sumatera Barat menjelang akhir tahun 2014.
Di Padangpanjang, pegiat FAM Indonesia, Muhammad Subhan memotivasi 30-an siswa SMA Pertiwi 2 Padang yang melakukan kunjungan belajar di sejumlah lokasi bersejarah di Padangpanjang dan Bukittinggi, Sabtu (23/8). Diskusi menulis berlangsung di gazebo Pusat Dokumentasi dan Informasi Minangkabau (PDIKM) Padangpanjang. (A. Neira)

Penuhi dan Arahkan Hasrat Menulis

Judul buku                  : Follow Your Passion: Be A Writer
Penulis                         : Saifur Rohman
Penerbit                       : PT GRASINDO
Tahun terbit                 : cet I, April 2014
Tebal                           : 136 halaman
ISBN                           : 978-602-251-502-9

“Menulis adalah bekerja untuk keabadian,” demikian kata Pramoedya Ananta Toer, sastrawan besar yang pernah dimiliki negeri ini. Terasa begitu menakjubkan. Dengan menulis, kita telah mengabadikan diri dan pemikiran melalui tulisan yang dibaca publik. Akan tetapi, keutamaan menulis tersebut tidak akan dengan mudah membuat seseorang menjadi memutuskan untuk menjadi penulis.
Pelbagai persoalan yang dialami seseorang di masa awal menulisnya, telah banyak menumbangkan minat dan semangat menulis yang awalnya menggebu. Belum lagi, setelah mampu menulis dengan baik, persoalan selanjutnya adalah menentukan mau dibawa kemana tulisan itu.
Tidak bisa dipungkiri, seorang penulis juga butuh penghasilan untuk kebutuhan hidupnya. Jadi, agar menjadi penulis yang benar-benar sukses, selain skill menulis, juga dibutuhkan kemampuan mengelola, atau memasarkan tulisan. Buku karangan Saifur Rohman berjudul Follow Your Passion: Be A Writer hadir untuk menjawab persoalan tersebut.

Strategi Alkemis
Satu hal yang menarik dari buku ini adalah soal strategi Alkemis. Strategi atau rumus Alkemis bagi seorang penulis, dalam buku ini diibaratkan sebagai suatu resep makanan. Selalu ada bumbu rahasia yang mengubah masakan yang biasa-biasa saja menjadi masakan istimewa.
Dalam hal ini, menulis sama halnya dengan kegiatan mengubah besi menjadi emas. Satu kemampuan yang hingga kini hanya dikuasai oleh Alkemis, seseorang yang hidup pada abad pertengahan.
Dari konsep ini, menulis adalah mengubah pengalaman tak berguna menjadi pengalaman berharga dan menghasilkan limpahan harta dan kekayaan. Dari gagasan tak berharga menjadi mulia. Menyulap hal yang biasa menjadi luar biasa. Para penulis yang telah menjadi jutawan dan meraup segala popularitas, sebetulnya telah memperoleh resep pengubahan itu (hlm 9-10).
Lewat buku ini, Saifur Rohman mengajak penulis yang kesulitan mendapatkan ide untuk lebih cermat untuk melihat dan merasakan hal-hal dalam kehidupan yang terkesan biasa saja menjadi sumber ide dan gagasan yang menarik untuk dijadikan tulisan. Alur dari gagasan menuju tulisan yang bernilai, terlebih dahulu diawali dengan kesadaran tentang adanya posisi kita, potensi yang muncul, inspirasi yang dekat, pengalaman kita sehari-hari dan tidak pernah dianggap penting (hlm 11).

Niat, Strategi, dan Segmen
Selanjutnya, setelah memahami gambaran awal diatas, hal yang perlu dimiliki adalah niat. Dalam hal ini, niat untuk menulis dibedakan dengan keinginan untuk menulis. Jadi keinginan saja tidaklah cukup. Orang boleh menginginkan segala sesuatu, tetapi tidak setiap orang memiliki niat untuk mewujudkan keinginannya itu.
Niat akan menuntun langkah menuju gudang data yang tidak pernah disentuh sebelumnya. Niat adalah energi pembakar jiwa, yang bagi penulis, merupakan spirit untuk tetap konsisten menjaga kualitas tulisan, dan menyelesaikan tulisannya (hlm 16).
Dalam buku ini, penulis juga menyebutkan bentuk-bentuk tulisan. Mulai dari tulisan fiksi, seperti cerpen dan novel sampai yang non-fiksi, seperti karya ilmiah dan karya populer. Memahami bentuk-bentuk tulisan merupakan langkah pertama setelah seorang sudah memiliki niat untuk menulis.
Artinya, bentuk tulisan apa yang hendak dibuat harus diketahui. Maka memahami definisi bentuk-bentuk tulisan menjadi pengetahuan awal. Selain itu, segmen pasar yang berminat dengan masing-masing bentuk tulisan tersebut juga penting untuk turut dipahami (hlm 28-54).
Ketika bentuk tulisan yang diinginkan sudah diketahui, maka strategi menulis merupakan persoalan selanjutnya. Dalam buku ini, diulas beberapa strategi menulis bentuk tulisan seperti artikel populer, artkel ilmiah, buku, dan fiksi. Pada tiap akhir pembahasan  disertakan latihan yang memuat konsep dan aplikasinya. Misalnya untuk latihan pada strategi menulis fiksi, untuk konsep diberikan petunjuk untuk melatih sensitivitas.
Dicontohkan dalam melatih sensitivitas ini adalah dengan menutup mata selama satu jam. Selama satu jam, rasakan kegelapan yang menyelimuti, kekurangan-kekurangan yang terjadi, ketakutan yang tiba-tiba muncul serta bayangan apa saja yang berkelebat di layar pikiran. Satelah satu jam, bukalah mata dan rasakan perbedaannya. Rasakan bahwa keadaan di sekeliling begitu bermakna.
Pengalaman menutup dan membuka mata harus segera ditulis dalam buku diary dan bacalah setiap kali membutuhkan penyegaran. Hal itulah yang menjadi jimat untuk menghidupkan karangan (hlm 116).
Dari sinilah kemudian kemampuan untuk mengarahkan tulisan dapat dipelajari. Yakni dimulai dari kemampuan mengkonstruksi ide menjadi tulisan tertentu sesuai dengan bentuk yang dikehendaki, serta paham kemana dan bagaimana pasar tulisan tersebut.
Pada akhir bab, diulas berbagai peluang kerja dari menulis. Pada bagian ini dibeberkan jenis-jenis pekerjaan yang bisa dijalani oleh seorang penulis. Namun, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan sebelum memutuskan jenis pekerjaan yang dipilih. Di antaranya  memperhatikan potensi dan kompetensi diri.
Begitu juga setelah menjalani pekerjaan, kita juga harus menciptakan alat evaluasi diri, demi sebuah pengembangan dan kenyamanan diri (hlm 126-128). Pada akhirnya, hasrat untuk menulis harus segera dipenuhi dan diarahkan, agar hasrat itu tetap terjaga, dan kemampuan menulis dapat terus berkembang. (*)

Al Mahfud, peresensi adalah pembaca buku tinggal di Pati

Gelorakan Semangat Menulis dengan Jambore Literasi

Surabaya, kompi.org – Jambore Literasi yang digelar Taman Bacaan Masyarakat Kelurahan Pakis, Kota Surabaya menggelorakan semangat menulis di kalangan anak-anak dan pelajar di “Kota Literasi” itu. Menulis pun mulai menjadi kegiatan yang asyik dan menyenangkan.
“Alhamdulillah, Jambore Literasi ini berjalan sukses, diikuti puluhan anak-anak dan pelajar,” kata Handoko, panitia penyelenggara Jambore Literasi TBM Kelurahan Pakis, Senin (25/8/2014), di Surabaya.
Dia menyebutkan, Jambore TBM Pakis itu berlangsung pada Sabtu (23/8/2014) lalu dengan kegiatan motivasi menulis dan lomba menulis cerita bertema bebas. Peserta terlihat antusias dan senang mengikuti jalannya acara.
Vegasari, dari Badan Arsip dan Perpustakaan Kota Surabaya, mengatakan, melalui Jambore Literasi di Kelurahan Pakis tersebut diharapkan dapat menumbuhkan kesadaran di kalangan anak-anak dan pelajar untuk cinta membaca, menulis, dan berpikir.
“Banyak manfaat yang bisa dipetik dari menulis. Lewat kegiatan ini mudah-mudahan akan lahir bibit-bibit penulis handal masa depan,” ujarnya.
Koordinator Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia Cabang Surabaya Yudha Prima mengatakan, FAM Surabaya memberikan dukungan dan apresiasi setiap upaya menanamkan kegemaran membaca dan menulis di Kota Surabaya yang pada 31 Mei 2014 lalu ditetapkan Walikota sebagai “Kota Literasi”. “Kemerdekaan RI juga diperoleh dari perjuangan para penulis,” ujarnya.
Yudha memberikan motivasi kepada anak-anak dan pelajar yang mengikuti Jambore Literasi itu dengan mengatakan bahwa menulis adalah mudah. “Tulis saja apa yang disukai, dan jadikan kebiasaan,” katanya.
Pada kesempatan itu, Yudha mendapat kehormatan menentukan juara I, II, dan III lomba menulis cerita dengan tema bebas. Dari puluhan anak yang mengikuti lomba, terpilih sebagai juara 1 Nur Azizah (SDN Pakis V, dengan judul cerita “Menjemput Impian”), juara II Putri Sintiyawati (SDN Pakis IX, judul: “Perjalanan Dokter Nabilla”), dan juara III Widya Kusuma (SDN Pakis V, judul: “Sahabat Sejati”). (A. Neira)

Membincang Kudus Lewat Foto

Kudus, kompi.org - Kelompok Pewarta Kudus (Kompak) menggelar pameran foto jurnalistik bertajuk “Kudus Dalam Dua Dimensi” di lantai III Matahari Plaza Kudus, pada 15 - 20 Agustus 2014 lalu.
Pameran ini memaparkan rekaman para jurnalis di Kota Kretek melalu karya fotografi, dengan tema beragam. Keragaman tema dan makna dari berbagai karya fotografi yang dipamerkan, itu dibedah dalam sebuah diskusi di tengah arena pameran.
Diskusi membincang Kudus melalui karya fotografi ini dihadiri siswa, mahasiswa, dan guru dari berbagai institusi pendidikan. Antara lain dari SMPN 1, MAN, SMKN 2, LPM Peka UMK, dan LPM Paradigma STAIN Kudus.
Andreas Fitri Atmoko, jurnalis foto LKBN Antara yang juga ketua pelaksana pameran, menjelaskan berbagai foto yang dipamerkan dalam kegiatan tersebut. Salah satu foto yang  disebut yaitu Kirab Ampyang Maulid.
“Foto ini memotret ribuan warga berebut nasi kepel saat Kirab Ampyang Maulid di depan Masjid Wali di Desa Loram Kulon, Kecamatan Jati. Konon, tradisi ini dulu menjadi media mensyi’arkan Islam di wilayah ini,” katanya. 
Dia pun memaparkan, bahwa sesungguhnya, foto mampu memberikan sebuah sudut pandang lain bagi yang melihat. “Pengunjung pada pameran kali ini pun bisa melihat sudut pandang lain tersebut, kendati ada yang sudah pernah mempublikasikan karya fotonya melalui majalah di institusi masing-masing,” ungkapnya. (A. Maftuhan, mahasiswa STAIN Kudus)

Wahai Pemuda, Bergeraklah

Amin Fauzi

Pada tiga dekade ke depan, mayoritas umur penduduk Indonesia diprediksikan berada usia yang masih produktif, dengan proporsi 69% dari jumlah penduduk Indonesia, atau para pakar demografi menyebutnya sebagai bonus demografi.
Artinya, rasio angka ketergantungan (dependency ratio) penduduk mencapai titik terendah. Pada saat itu, jumlah angkatan kerja sangat besar, mereka hanya menanggung beban kelompok usia anak dan lansia yang sangat kecil.
Pada posisi seperti ini, sebenarnya Indonesia berada di persimpangan jalan, bonus demografi itu bagai pisau bermata dua, satu sisi bisa menjadi window of opportunity (peluang) kalau dimanfaatkan dengan baik, di sisi lain justru akan menjadi window of disaster (petaka) kalau perkembangannya tidak dikelola dengan baik pula.
Usia produktif itu bisa menjadi peluang yang menjanjikan kalau mereka mendapatkan lapangan kerja yang memadai. Akan tetapi, mereka bisa jadi malah jadi petaka jika tidak punya aktifiktas yang produktif sama sekali. Sebab, di usia produktif, beban konsumsinya justru lebih tingggi. Kalau tidak diantisipasi, justru patologi sosial yang akan terjadi.
Sebagian usia produktif adalah usianya para pemuda. Berarti pada tangan pemuda lah letak masa perekonomian bangsa ini pada tiga dekade ke depan.
Makanya, salah satu cara untuk mengantisipasi kemungkinan terburuk bonus demografi itu, adalah dengan menanamkan wirausaha sejak dini, agar kelak kalau sudah berusia muda, sudah punya modal mental maupun ketrampilan untuk menjalankan usaha secara mandiri.  Sebab, kalau terus mengandalkan pekerjaan di sektor formal,  jangkauannya terbatas. Sektor informal yang saya kira bisa menjadi penggerak utama roda perekonomian masyarakat.
Persoalannya, bagaimana memberikan kesadaran kepada masyarakat agar punya ketertarikan untuk berwirausaha secara mandiri. Masalah ini yang hingga kini masih belum menjadi ketertarikan massal oleh masyarakat. Sebab, berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah wirausaha di Indonesia pada tahun 2012 hanya mencapai 1,56 persen dari jumlah penduduk Indonesia.
Ironis. Apa pasal? Karena sebagian banyak orang tidak mempunyai keberanian untuk memulai berwirausaha, sehingga banyak orang lebih memilih menjadi pekerja di sektor formal dari pada berwirausaha secara mandiri.
Oleh karena itu, untuk menanamkan jiwa wirausaha kepada masyarakat, hal yang perlu dibentuk adalah mentalitasnya terlebih dahulu. Sebab, proses menjalankan usaha pasti ada pasang surutnya, kalau tidak dikuatkan mentalnya, dikhawatirkan akan patah arang saat usahanya sedang surut.
Pembentukan mental tidak semudah membalikkan telapak tangan, butuh proses panjang, karena keterkaitannya dengan landasan fundamental. Oleh karena itu, penanaman jiwa wirausaha sejak dini adalah suatu keniscayaan.
Persoalannya, siapa dan dimana pihak yang berperan dalam menghembuskan spirit mental kewirausahaan ini? Pihak keluarga dan sekolah yang saya kira punya peranan penting sebagai medium transfer spirit ini.
Sebab, pembangunan mental tidak hanya selesai pada teori, namun juga tindakan yang aplikatif. Kedua intitusi itu yang saya kira bisa saling berkerjasama secara integral  untuk saling mendukung pembentukan mental entrepreneurship ini.
Pertama, di tingkat sekolah, siswa perlu diberikan pemahaman yang luas mengenai dunia kewirausahaan secara luas, wawasan yang bisa merangsang siswa agar tertarik menggeluti dunia ini.
Sudah saatnya sejak dini siswa di sekolah sudah dikenalkan tentang dunia usaha secara provokatif, sehingga menginspirasi siswa untuk bergelut di dunia ini kelak di waktu yang tepat. Bukan berarti mengajarkan siswa untuk bersifat pragmatis dan meteralistis, tapi sebagai bekal pengenalan.
Di tingkat sekolah formal saat ini, jarang sekali siswa ditunjukkan profesi wirausahawan, banyak yang mengemuka adalah profesi yang sifatnya formal, seperti pilot, polisi, guru, dokter, dan sebagainya.
Bukan berarti salah, tapi pengenalan itu lambat laun akan membentuk pikiran anak, dan pada akhirnya menjadi sebuah cita-cita. Terbukti, ribuan sarjana yang lulus dari perguruan tinggi setiap tahun yang berlomba-lomba menjadi pegawai di intansi pemerintah maupun swasta, sedikit sekali prosentasenya yang berinisiatif untuk berwirausaha.
Oleh karena itu, di sekolah dasar, penanaman nilai-nilai wirausaha bisa dintegrasikan dalam setiap mata pelajaran yang diajarkan, baik bahasa Indonesia, agama,  ilmu pengetahuan alam (IPA), ilmu pengatahuan sosial (IPS), dan sebagainya, baik melalui teori maupun melalui praktek.
Misalnya, praktek dalam pelajaran bahasa Indonesia, siswa diajak berkunjung di suatu tempat usaha terdekat, siswa diminta mencari informasi sebanyak-banyaknya mengenai obyek usaha itu, setelah itu siswa diminta menulis mengenai pengalaman kunjungannya tersebut.
Ajaran agama juga banyak mengajarkan tentang bagaimana praktek berirausaha, pelajaran ini juga perlu dipraktekkan. Begitu juga pelajaran pada ekonomi, sosial, akuntansi kelak kalau sudah menginjak di SMP dan SMA. Siswa perlu diajarkan praktek dalam setiap meta pelajaran.
Meskipun demikian, sekolah tetap harus menjadi benteng pembangunan moralitas kepada siswanya. Penanaman wirausaha ini tidak semata menganut prinsip untung yang sebanyak-banyaknya, tapi tetap disertai dengan nilai tanggung jawab dan kemanusiaan. Sehingga diharapkan proses wirausaha yang dijalankan tetap bersih, bukan manipulatif.
Kedua, melalui orang tua. Wirausaha butuh proses kreatif dan inovatif, di sela penanaman nilai di sekolah, sebenarnya yang paling efektif adalah penanaman wirausaha melalui orang tua. Secara informal, orang tua bisa membentuk pribadi anak secara leluasa, bukan hanya teori, tapi melalui praktek langsung.
Misalnya, orang tua bisa mengajak anaknya berkunjung di tempat-tempat usaha, sehingga anak lebih akrab dengan proses berwirausaha, bukan hanya tahu hasilnya saja.
Secara aplikatif, anak juga bisa diajak untuk memelihara binatang ternak, seperti ayam, itik, dan sebagainya, kelak hasilnya bisa digunakan untuk usaha yang lebih besar. Bisa juga dilakukan dengan membuat kerajinan-kerajinan sederhana yang layak dujual. Ketika menjual hasil usahanya itu, sesekali anak juga perlu diajak dalam proses penjualan dan pemasarannya.
Dalam konteks ini, orang tua juga membantu mendisiplinkan anak, mengatur waktu, kira-kira kapan harus bermain, belajar, dan praktek berwirausaha. Sebab, melalui pendisiplinan ini akan menjadi kebiasaan. Namun, dalam memberikan pendidikan ini, orang tua tidak boleh menuntut banyak, namun hanya memotivasi dan menginspirasi.
Dengan begitu, diharapkan kelak kalau sudah berusia muda, mempunyai bekal dalam berwirausaha secara mandiri, sehingga benar-benar bisa menjadi aset bangsa, bukan beban bangsa, karena nasib bangsa ini ada pada tangan pemuda. Seperti kata Bung Karno, “Berilah aku sepuluh pemuda, maka saya akan mengubah dunia,” kataya. Maka, wahai pemuda, bergeraklah !!!

Amin Fauzi,
Penulis adalah jurnalis Koran Sindo di Semarang 

Pengusulan Proposal PKM Sampai 28 September

Jakarta, kompi.org - Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi kembali membuka kesempatan kepada mahasiswa baik dari Perguruan Tinggi Negeri (PTN) maupun Perguruan Tinggi Swasta (PTS) mengajukan usulan proposal Program Kreativitas Mahasiswa (PKM).
PKM ini terdiri atas lima skema (bidang), yakni PKMP, PKMM, PKMK, PKMT dan PKMKC, yang akan didanai tahun 2015. Usulan  pengiriman proposal secara online ke Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (Dit. Litabmas) bisa diunduh melalui website http://dikti.go.id atau http://simlitabmas.dikti.go.id, dengan headline : Usulan Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) 2014.
Batas waktu pendaftaran dan pengunggahan dokumen usulan online terbuka hingga 28 September 2014. Dit. Litabmas tidak menerima usulan proposal dalam bentuk hard copy. Dokumen hard copy disimpan di PTN/PTS pengusul untuk keperluan administrasi. (A. Neira)
 
Support : Copyright © 2013. Kompi - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Much Harun
Proudly powered by Blogger