Berita Terkini :
Kompi.org. Powered by Blogger.

Pameran KurikuLAB di Taman Ismail Marzuki

Jakarta, kompi.org - Komite Seni Rupa Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) bersama Serrum mengadakan Pameran Seniman Muda Indonesia II: kurikuLAB di Galeri Cipta II, Taman Ismail Marzuki (TIM), 16-30 Oktober 2014 lalu.
Pameran KurikuLAB ini merupakan proyek eksperimen untuk mencari alternatif dalam metode dan sistem pendidikan, dengan pendekatan aktivitas kesenian.Pameran terbagi dalam dua tahap yakni diskusi dan riset seni dengan melibatkan penggiat pendidikan lintas disiplin.
Tahap diskusi dan riset seni berlangsung pada 16-21 Oktober 2014, sementara yahap kedua yakni presentasi dalam bentuk pameran seni rupa yang menampilkan hasil Laboratorium dalam bentuk artefak dan rekaman berupa coretan gambar, teks, rumus, kutipan, rekaman foto dan video.
Pameran ini dikuratori Angga Wijaya, MG. Pringgotono, M. Sigit Budi S. Pameran kurikuLAB dimeriahkan pula oleh penampilan The Guru dan Dendang Slada. Selanjutnya, pameran akan berlangsung hingga 30 Oktober 2014 dengan agenda Dapur Praktek dan Kelas Belajar serta Bemain Anak.
Pameran Seniman Muda Indonesia II: kurikuLAB, bertujuan meningkatkan kesadaran pengetahuan atas wacana pendidikan, menciptakan ruang dan pengalaman kreatif dengan berbagai praktisi lintas disiplin untuk mendorong perkembangan seni budaya, dan memperluas daya kreatif, kritis dan artistik hasil dari interaksi silang antara praktisi lintas disiplin. (A. Neira)

Menikmati Eksotisme Kampung Teletubbies

AWALNYA saya heran dengan adanya Kampung Teletubbies di Indonesia yang saya dengar dari cerita mulut ke mulut sejak 2006, setelah terjadinya gempa Yogyakarta dan sekitarnya. Sebuah dusun unik milik warga Dusun Ngelepen, Desa Sumberharjo, Kecamatan Prambanan, Kabupaten Sleman, Yogyakarta, inilah yang kelak dikenal dengan Kampung Teletubbies.
Warga desa tersebut membangun kediamannya seragam, berbentuk setengah telur besar seperti dalam film anak kecil dulu. Keberadaan Kampung Teletubbies ini pun menjadi daya tarik tersendiri bagi masyarakat untuk datang.
Begitu pun dengan saya pribadi. Belum lama ini, dengan sepeda ontel, saya menuju Kampung Teletubbies dari Dusun Pelemsewu, Sewon, Bantul. Lebih dari 2,5 jam bersepeda dan Tanya sana sini, akhirnya sampailah saya di perkampungan yang saya tuju.
Dilihat dari atas, kampong ini memang kelihatan sangat unik, karena sekilas mirip telur ayam yang ditata rapi. Secara akademis sebagai rumah dome. Namun Kampung Teletubbies lah yang lebih popular dikenal luas masyarakat.
Sulasmono, penjaga Kampung Wisata Teletubbies menjelaskan, pengunjung hanya dikenakan biaya Rp. 3.000,- untuk menikmati pemandangan yang unik, lucu, dan member kesan tersendiri di kampung wisata tersebut. “Biasanya yang banyak berkunjung itu dari lembaga pendidikan. Pernah ada tamu dari Negara Jepang yang dating hanya untuk meneliti kampung ini.”
Dia mengemukakan, sejarah berdirinya kampong unik ini dimulai pada 27 Mei 2006, di mana hampir seluruh Yogyakarta terkena bencana gempa bumi. Gempa juga meruntuhkan Desa Ngelepen, Prambanan, ini.
“Saat itu, ada satu daerah perbukitan yang mengalami kerusakan total yakni Dusun Sengir. Dusun ini tanahnya amblas sampai enam meter lebih. Karena sudah tidak layak huni lagi, warga Dusun Sengir kemudian direlokasi ke perkampungan baru yang kini dikenal dengan New Ngelepen,” ungkapnya.
Akhirnya, pemerintah bekerja sama dengan World Association of Non-governmental Organizations (WANGO) dan the Domes for the World Foundation (DFTW) membuat hunian desa baru dengan konsep rumah domes. “New Ngelepen keseluruhan ada 80 rumah. 71 rumah dari keseluruhan tersebut adalah hunian warga, 6 MCK, 1 masjid, 1 aula, dan satu lagi untuk klinik kesehatan.”
Sebagai sarana tambahan, kompleks perumahan ini dilengkapi wahana permainan bagi anak-anak seperti kereta mini, ayunan, papan seluncur dan jungkat jungkit. Sehingga, pengunjung yang datang bisa masuk ke dalam rumah untuk melihat suasana rumah di Kampung Teletubbies. Tersedia tempat juga bagi pengunjung yang ingin menginap.
Seiring dengan keberadaan Kampung Teletubbies yang kian dikenal, kini perkampungan ini menyediakan pula area perkemahan bagi pengunjung yang hendak berkemah di dekat rumah di Kampung Teletubbies tersebut.
“Rumah di Kampung Teletubbies berukuran diameter 7 meter dan tinggi rumah 4,6 meter. Setiap rumah dilengkapi 2 pintu, 4 jendela dan 2 kamar. Rumah di Kampung Teletubbies juga dilengkapi ruang tamu, dapur dan kamar mandi seperti rumah pada umumnya. Terdiri dari dua lantai, rumah di perkampungan ini dibuar dari kayu dengan tangga ulir, termasuk ventilasi udara,” terang Sulasmono. (Maftuhan

Cerdas Bermedia di Era Digital

Semarang, kompi.org – Memperingati Hari Ulang Tahun (HUT)-nya ke-30, Surat Labar Mahasiswa (SKM) Amanat IAIN Walisongo Semarang akan menggelar seminar nasional pada Senin (27/10/2014).
Seminar bertajuk "Cerdas Memanfaatkan Media Sosial di Era Digital" ini dilaksanakan di Auditorium II Kampus III Perguruan Tinggi Islam Negeri (PTAIN) tersebut. Narasumber Didik Supriyanto (Pemimpin Redaksi Merdeka.com/Divisi New Media AJI Indonesia), Rustam Aji (Redaktur Tribun Jateng), dan Blontank Poer (Blogger/Pegiat Media Sosial Komunitas Blogger Bengawan). Moderator, Musyafak (Esais dan staf pada Balitbang Agama Semarang). (A. Neira)

Agenda Buka Luwur Sunan Kudus

Kudus, kompi.org - Menyemarakkan kegiatan Buka Luwur Kangjeng Sunan Kudus tahun 2014 ini, berbagai kegiatan telah dirancang. Dimulai dengan penjamasan pusaka Kangjeng Sunan Kudus pada Kamis (9/10/2014) lalu.
Denny Nur Hakim mengatakan, berbagai acara yang telah disiapkan dalam rangka Buka Luwur Kangjeng Sunan Kudus, yaitu pengajian awal tahun yang menghadirkan KH. Choirozyad TA pada Jum'at malam (24/10), pelepasan luwur pesarean (Sabtu, 25/10), dan munadlarah masail diniyyah (Minggu, 26/10).
Selain itu, pembuatan luwur baru (30/10 - 2/11), do'a rasul dan terbang papat Sabtu (1/11), penyembelihan hewan shadaqah (Minggu, 2/11), khatmil qur'an bil ghaib (Minggu, 2/11), masak nasi dan daging shadaqah (Minggu, 2/11), serta pembagian bubur asyura (Minggu, 2/11).
Lainnya, santunan anak yatim (Minggu, 2/11), pembacaan qasidah al-Barzanji (Minggu, 2/11), pengajian umum bersama KH. Habib Umar al-Muthahar (Minggu, 2/11), dan pembagian berkat salinan (2/11).
''Puncak Buka Luwur yaitu pembagian berkat untuk pemberi shadaqah dan masyarakat umum pada Senin pagi (3/11) sehabis shubuh. Selepas itu, dilanjutkan dengan upacara pemasangan luwur di pendapa Tajug dan pesarean Kangjeng Sunan Kudus,'' terang staf Yayasan Masjid Menara dan Makam Kangjeng Sunan Kudus (YM3SK) itu. (A. Neira)

Mahasiswa Harus Miliki Jiwa Entrepreneur


Padang Panjang, kompi.org - Sebanyak 279 perserta yang terdiri atas 217 mahasiswa dan 62 asosisasi profesi mengikuti Seminar Nasional Continuing Profesional Develpment (CPD) bertajuk “Mengembangkan Jiwa Kewirausahaan melalui Pemanfaatan Teknologi dan Rekayasa Bidang Konstruksi Menyongsong AFTA 2015” di Balairung Caraka Kampus Proklamator I Universitas Bung Hatta (ubh), Senin (22/09/2014).
Kegiatan yang dibuka Rektor UBH, Prof. Dr. Niki Lukviarman, SE, Akt, MBA ini menghadirkan Dr. Ir. Doedoeng Z. Arifin (Kepala Badan Pembinaan Konstruksi Kementerian Pekerjaan Umum), Ir. Martelius Peli M.Sc, IAI (Ahli Quantity Surveying UBH), Zulheri Rani, SE, MPA (General Manager PT. Karya Suka Abadi) dan Hamzah Izzulhaq CEO Hamasa Corp sebagai narasumber.
Ketua seminar, Disti Mayang Sari, mengatakan, kegiatan ini dimaksudkan memberikan informasi dan edukasi serta mengembangkan kemampuan berwirausaha generasi muda, sebagai jawaban atas tantangan dengan adanya pasar bebas di kawasan ASEAN pada 2015 mendatang, khususnya pada disiplin ilmu dalam dunia konstrusksi.
“Dengan mengikuti seminar nasional ini para peserta dapat menumbuhkan jiwa entrepreneur, dan mampu memberikan solusi terhadap permasalahan-permasalahan yang dihadapi agar tercipta kemandirian,” katanya.
Rioni Rizki Aldiansyah Gubernur Badan Eksekutif Masyarakat Mahasiswa Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan UBH, mengutarakan, seminar ini merupakan rangkaian dari kegiatan FTSP SILeNT EFFECT yang menjadi program kerja BEMM tahun ini, bekerja sama dengan Kementerian Pekerjaan Umum, khususnya Badan Pembinaan Konstruksi.
“Kegiatan ini bisa menghidupkan suasana kompetitif yang kooperatif di lingkungan kampus, serta memberikan motivasi mahasiwa untuk berani memilih dunia usaha sebagai pilihan utama di dunia kerja dalam menyongsong AFTA 2015,” paparnya.
Rektor UBH Prof. Dr. Niki Lukviarman, SE, Akt, MBA, menyampaikan, menyambut pasar bebas, para mahasiswa harus mempersiapkan diri dengan menambah kemampuan dan keahliannya. “Setelah lulus nanti tidak bisa hanya mengandalkan ijazah, tetapi harus memiliki sertifikat keahlian di bidang keilmuan masing masing,” ujarnya. (Bayu/ A. Neira)

Internalisasi Karakter Berbasis PAI


Fiqri Hidayat

Yakin dan sadar, bahwa pendidikan merupakan upaya membimbing individu agar berkembang dan tumbuh menjadi manusia yang mandiri, bertanggung jawab, kreatif, berilmu, sehat dan berakhlak (berkarakter) mulia.
Karakter menjadi titik poin dalam pendidikan, sebagai nilai yang akan membentuk watak seseorang. Karenanya, karakter yang baik harus dibentuk. Dalam Pendidikan Agama Islam (PAI), dibutuhkan materi yang lengkap (kaffah) serta ditopang oleh pengelolaan dan pelaksanaan yang benar.
Terkait internalisasi nilai karakter dalam setiap individu, khususnya melalui lembaga pendidikan, Islam memiliki visi yang sejalan dengan tujuan pendidikan nasional.
Secara umum pendidikan Islam mengemban misi memanusiakan manusia, yakni menjadikan manusia mampu mengembangkan seluruh potensi yang dimiliki dengan berpegang pada aturan-aturan yang telah digariskan, dalam rangka menuju manusia seutuhnya (insan kamil).
Karakter, merupakan bagian dari sistem ajaran Islam, yakni aqidah (keyakinan), syari’ah (aturan-aturan hukum tentang ibadah dan muamalah), dan akhlak (karakter).
Ketiga hal ini menjadi satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan. Sebab, Aqidah merupakan pondasi yang menjadi tumpuan terwujudnya syari’ah dan akhlak.
Untuk itu, maka  semua  mata pelajaran yang diajarkan kepada peserta didik harus mengandung muatan akhlak (karakter). Ini, mensyaratkan juga bahwa setiap pendidik harus memperhatikan sikap dan tingkah laku peserta didiknya.
Sebab, pada dasarnya, pendidikan karakter tidak sekadar mengajarkan mana yang benar dan mana yang salah kepada peserta didik. Lebih dari itu ialah penanaman kebiasaan (habituation) baik sehingga peserta didik paham, mampu merasakan, dan mau melakukan yang baik pula.

Karakter Berbasis PAI
Secara umum karakter dalam perspektif Islam dibagi menjadi dua, yaitu karakter mulia (al-akhlaq al-mahmudah) dan karakter tercela (al-akhlaq al-madzmumah).
Karakter mulia harus diterapkan dalam kehidupan setiap Muslim sehari-hari. Dilihat dari ruang lingkupnya, karakter Islam dibagi menjadi dua bagian, yaitu karakter terhadap Khaliq (Allah Swt.) dan karakter terhadap makhluq (selain Allah Swt.).
Karakter terhadap makhluk bisa dirinci lagi menjadi beberapa macam, seperti karakter terhadap sesama manusia, karakter terhadap makhluk hidup selain manusia (seperti tumbuhan dan binatang), serta karakter terhadap benda mati (lingkungan/alam).
Islam menjadikan aqidah sebagai pondasi syariah dan akhlak. Karena itu, karakter yang mula-mula dibangun setiap Muslim adalah karakter terhadap Allah Swt.
Al-Quran juga banyak mengaitkan karakter (akhlak) terhadap Allah dengan akhlak kepada  Rasulullah.  Jadi,  seorang  Muslim  yang  berkarakter  mulia  kepada sesama manusia harus memulainya dengan bernkarakter mulia kepada Rasulullah.
Islam juga mengajarkan kepada setiap Muslim berkarakter mulia terhadap dirinya sendiri. Manusia yang telah diciptakan dalam sibghah Allah Swt. dan dalam potensi fitriahnya, antara lain berkewajiban menjaganya dengan cara memelihara kesucian lahir dan batin (QS. al-Taubah [9]: 108), memelihara menambah pengetahuan sebagai modal amal (QS. al-Zumar [39]: 9), dan membina disiplin diri (QS. al- Takatsur [102]: 1-3).
Selanjutnya, setiap Muslim harus membangun karakter dalam lingkungan keluarganya. Karakter mulia terhadap keluarga dapat dilakukan misalnya dengan berbakti kepada kedua orang tua (QS. al-Isra [17]: 23), bergaul dengan ma’ruf (QS. al- Nisa [4]: 19), memberi nafkah dengan sebaik mungkin (QS. al-Thalaq [65]: 7), saling mendoakan (QS. al-Baqarah [2]: 187), dan bertutur kata lemah lembut (QS. al-Isra [17]: 23).
Terhadap tetangga, seorang Muslim juga harus membina hubungan baik tanpa memandang perbedaan agama, etnis, dan bahasanya. Menjaga hubungan baik denga anggota masyarakat, juga menjadi hal yang diperhatikan dalam Islam.
Seorang Muslim juga harus membangun karakter mulia terhadap lingkungannya.  Lingkungan  dimaksud  meliputi segala  sesuatu  di sekitar manusia, seperti binatang, tumbuhan, dan alam sekitar.
Akhirnya, internalisasi karakter berbasis PAI menjadi hal yang sangat penting, sebab ia merupakan cerminan dari tugas kekhalifahan manusia di bumi, yakni untuk menjaga agar setiap proses pertumbuhan alam terus berjalan sesuai dengan fungsi ciptaan-Nya. (*)

Fiqri Hidayat,
Pendidik di Kabupaten Blora dan mahasiswa Magister Pendidikan Islam di STAIN Kudus.
 
Support : Copyright © 2013. Kompi - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Much Harun
Proudly powered by Blogger