Berita Terkini :
Kompi.org. Powered by Blogger.

Dua Tim Wakili Merah Putih di IOAA

Jakarta, kompi.org - Tujuh siswa yang terbagi dalam dua tim akan mewakili Indonesia pada Olimpiade Internasional Astronomi, The 8th International Olympiad on Astronomy and Astrophysics (IOAA), di Suceava, Rumania, diharapkan pulang ke tanah air dengan membawa kesuksesan. Tim merah putih akan berkompetisi dengan 44 tim lain dari 39 negara.
IOAA ke 8 akan digelar pada 1-10 Agustus 2014. Tim Indonesia dilepas Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud), Mohammad Nuh, berbarengan dengan enam tim lainnya yang juga berkompetisi di olimpiade lainnya, 2 Juli lalu.
Kedua tim ini terdiri dari tim A: Joandy Leonata Pratama (SMA Sutomo 1 Medan, Sumatera Utara), Athaariq Ramadino (SMAN Unggulan M.H. Thamrin, DKI Jakarta), Rizky Ouliad O.P.L (SMAN Plus Riau), Maeclina Viana (SMA Santa Ursula, DKI Jakarta), Kusuma Yani Pramanto (SMA 4 Berau, Kalimantan Timur). Tim B terdiri atas M. Faqih Afthon (SMAN 2 Kudus, Jawa Tengah), dan M. Faisal Dzulfikar (SMAN 3 Malang, Jawa Timur).
Kedua tim didampingi tiga team leader dan satu orang observer. Pengiriman dua tim ini mengingat pada tahun 2015, Indonesia akan menjadi tuan rumah IOAA ke 9. Tim leader akan ikut menganalisa soal-soal yang diujikan.
Selain itu, juga menerjemahkan soal ke dalam bahasa Indonesia, dan memeriksa hasil pekerjaan siswa Indonesia dan berdebat dengan juri memperjuangkan nilai yang fair bagi siswa Indonesia.
Sedang observer bertugas mengamati seluruh rangkaian kegiatan, sebagai bahan laporan kepada Kemdikbud. Sesuai dengan statute IOAA, olimpiade ini terdiri dari empat ronde, yaitu pengamatan (4-8 Agustus), teori (5 Agustus), praktik pengolahan data (7 Agustus), dan kompetisi tim (9 Agustus). Kompetisi tim dipertandingkan untuk menentukan gelar tim terbaik.
Tahun lalu, tim Indonesia berhasil meraih satu medali emas, satu perak, dan satu perunggu, serta tempat ke tiga di kompetisi tim pada IOAA ke 7 tahun 2013 di Volos, Yunani. Tahun ini, tim merah putih ditarget meraih perolehan medali sama dengan tahun lalu. (A. Neira)

Prof DYP Sugiharto: Perguruan Tinggi Harus Menjadi Solusi

Kudus. kompi.org – Keberadaan Perguruan Tinggi diharapkan bisa ikut menjadi lembaga yang menawarkan solusi atas pelbagai persoalan yang dihadapi bangsa ini. Bukan sebaliknya, yaitu untuk mempersoalkan persoalan.
Hal itu disampaikan Koordinator Kopertis Wilayah VI Prof Dr DYP Sugiharto MPd Kons dalam sambutannya pada upacar pelantikan Dr Suparnyo SH MS sebagai Rektor Antar Waktu Universitas Muria Kudus (UMK) 2012 – 2016.
‘’Keberadaan perguruan tinggi diandalkan untuk dapat menjadi bagian dari solusi, bukan bagian dari persoalan. Kehadirannya adalah untuk menjawab berbagai tantangan dan persoalan, bukan untuk mempersoalkan persoalan,’’ pada acara yang dilaksanakan di Auditorium Kampus UMK, Kamis (24/7/2014) lalu.
Menurutnya, ada dua tantangan (persoalan) yang dihadapi. ‘’Pertama, menyiapkan generasi 100 tahun Indonesia merdeka menjadi generasi emas di tahun 2045. Kedua, menyiapkan lulusan yang cerdas dan kompetitif, agar mampu bersaing dalam kancah pasar tunggal Asean, sebagai konsekuensi pemberlakuan kesepakatan Asean Economic Community (AEC) 2015.’’
Di depan sekitar 400 undangan yang hadir, koordinator Kopertis Wilayah Vi Jawa Tengah yang juga guru besar Universitas Negeri Semarang (Unnes), pun berpesan, agar UMK memperkuat leadership.
Selain itu, melakukan perbaikan tata kelola yang diperlukan serta penguatan SDM dan budaya akademik, serta memperteguh dan merekonstruksi prisnip Tri Dharma perguruan tinggi.
‘’Secara khusus kami berterima kasih kepada Yayasan Pembina (YP) UMK yang memfasilitasi pendirian dan penyelenggaraan pendidikan tinggi. Upaya ini menjadi salah satu wujud amanah UU No 12 Tahun 2012, khususnya mengenai perluasan akses pendidikan tinggi untuk pengembangan SDM di daerah.’’
Ketua YP UMK Drs H Djuffan Ahmad dalam sambutannya usai melantik Suparnyo sebagai Rektor Pengganti Antar Waktu, berharap agar rector baru bisa melanjutkan apa yang telah digariskan pendahulunya.
‘’Rektor yang baru dilantik kami harapkan bisa meneruskan dan meningkatkan apa yang telah digariskan almarhum Prof Sarjadi, demi kemajuan UMK ke depan. Sebab, keberadaan UMK diharapkan bisa ikut mengentaskan berbagai problem yang dihadapi oleh masyarakat dan bangsa,’’ tuturnya. (A. Neira)

Refdinal Castera Rilis "Meniti Buih Menerobos Tantangan”

REFDINAL CASTERA, S.Pd., guru SD Negeri 28 Padang Sarai, Koto Tangah, Padang, Sumatera Barat, merilis novel berjudul “Meniti Buih Menerobos Tantangan” yang diterbitkan FAM Publishing, belum lama ini.
Dia berharap, novel tersebut bisa memperkaya khazanah kesusastraan tanah air, khususnya di Ranah Minang, terlebih lagi bagi kalangan pendidikan (guru). Lewat sastra, ia ingin berbagi kisah tentang berbagai pengalaman hidup yang pernah ia jalani. ‘’Ini novel pertama dari Trilogi yang saya agendakan,” ujarnya.
Dia mengutarakan, keinginannya menerbitkan novel ini dilatarbelakangi oleh proses kreatif di bidang kepenulisan yang telah membentuk dirinya selama ini. Ia tidak hanya berprofesi sebagai guru, juga banyak menulis di media massa.
Alumni SMPN 3 Lubuk Basung (1983), SPG Negeri Jambi (1986) dan Universitas Negeri Padang (2005) ini menyebutkan, novel “Meniti Buih Menerobos Tantangan” berkisah tentang kegigihan seorang anak muda bernama Agus mengurus lima orang adik yang berasal dari keluarga petani dan tinggal di daerah terisolir. Kemiskinan membuat jiwa Agus gelisah.
Warga kampungnya suka mengurusi urusan orang lain. Agus merasa tidak nyaman. Tamat SMP, ia melanjutkan pendidikan ke SPG di kota yang jauh dari orangtua. “Untuk apa jauh-jauh sekolah ke kota, di kampung juga ada sekolah! Kalau sakit nanti, berapa biaya yang mesti dikeluarkan, belum lagi jarak yang jauh,” ejek orang kampung kepada Agus.
Berkat tekad yang kuat, impian Agus kuliah terwujud. Namun, kiriman wesel dari orang tuanya tak cukup, dan memaksanya berjualan koran di terminal bus dan pasar. Tapi persoalan hidup yang berat, membuat kuliahnya putus di tengah jalan.
Dikabarkan berhenti kuliah, teman-teman kuliahnya yang juga penjual koran tak percaya. Mereka ingin meringankan beban hidup Agus. Di bagian-bagian berikutnya, banyak konflik bermunculan yang mengaduk-aduk perasaan pembaca.
“Saya tertarik membaca novel ini, karena ditulis guru SD yang sibuk mengajar dan mengisi rapor siswa tiap semester. Bila penulis atau wartawan mampu menulis novel, itu sudah biasa. Tapi, seorang guru SD yang menulis novel, itu luar biasa.” ujar Muhammad Subhan yang aktif mengampanyekan pentingnya literasi medika bagi pelajar dan masyarakat.
Ali Dasni, Praktisi Pendidikan di Padang menyebutkan, menulis menjadi sesuatu yang asyik jika ditekuni secara bersungguh-sungguh. Refdinal Castera membuktikan itu. “Suatu bukti bagi guru bahwa menulis itu tidak sulit. Novel ini sebuah karya inspiratif, inovatif dan layak dibaca guru,” tuturnya.
Aliya Nurlela, penulis novel “Lukisan Cahaya di Batas Kota Galuh” mengapresiasi terbitnya novel ini. Dalam pandangannya, Refdinal Castera mampu membangun semangat pembaca untuk berani mewujudkan cita-cita, mimpi, dan menerobos tantangan seberat apa pun itu melalui karyanya.
“Sangat edukatif. Buku ini layak dibaca siapa saja dari berbagai larat belakang. Sebagai guru dan penulis yang tulisannya telah dimuat dibanyak media massa, saya ikut berbahagia atas lahirnya novel ini,” ungkapnya. Hal senada juga disampaikan Anurgaha, Kepala SMK SMTI Padang (2009-2013).
Jhon Nedy Kambang, Jurnalis TV Nasional juga menyambut baik terbitnya novel “Meniti Buih Menerobos Tantangan” ini. “Refdinal Castera pernah bekerja di Koran Mingguan Canang Padang pada 1990-an, pernah menjadi motor halaman khusus sekolah di media itu. Dan lahirnya novel ini membuktikan, ia tak sekadar seorang guru, juga penulis yang produktif,” katanya. (A. Neira)

Kupat – Lepet

IDUL FITRI. Ya, hari ini, Senin (28/7/2014), umat Islam di seluruh penjuru dunia merayakan Idul Fitri, setelah sebelumnya melaksanakan puasa Ramadhan selama satu bulan. Selama Ramadhan, umat Islam meningkatkan amalan-amalan shalih, dengan harapan bisa menjadi umat yang benar-benar muttaqin.
Puncak dari ibadah-ibadah selama Ramadhan, umat Islam pun merayakan hari raya Idul Fitri. Dalam tradisi  masyarakat nusantara, berbagai aktivitas unik masyarakat bisa diihat, yang konon tidak ada di negara lain.
Berbagai tradisi itu, antara lain mudik massal menjelang Lebaran ke kampung halaman, dan saling mengunjungi saudara untuk saling bermaaf-maafan. Dalam berbagai pemberitaan di media massa, mudik Lebaran ini menjadi aktivitas yang sangat berat dan membutuhkan perjuangan keras, agar dapat menghadirkan diri di tengah keluarga untuk merayakan Idul Fitri bersama.
Selain tradisi mudik yang sangat kental dengan masyarakat Indonesia, di Jawa, tradisi saling maaf-memaafkan ini bahkan dimanifestasikan dalam simbolisasi kuliner (makanan khas) Kupat dan Lepet.
Kupat dan Lepet sendiri bukan hadir di ruang hampa dalam tradisi masyarakat nusantara, khususnya Jawa. Sebab, kehadirannya sendiri merupakan wujud dari keikhlasan untuk saling memberi dan menyampaikan maaf atas salah dan dosa yang dilakukan, yang pada akhirnya memohon keikhlasan agar khilaf yang pernah dilakukan, dimaafkan.
Kupat merupakan akronim dari Ngaku Lepat (mengaku salah), sebagai perlambang pengakuan seseorang terhadap khilafnya. Sedang Lepet berarti Nyilep Sing Rapet (mengubur rapat), yang menunjuk atau sebagai perlambang supaya khilaf yang pernah dilakukan terhadap orang lain, dilupakan dan dikubur rapat- rapat seolah tak pernah ada.
Akhirnya, seiring dengan perayaan Idul Fitri ini, baik sebagai pribadi maupun pengelola kompi.org, saya menyampaikan mohon maaf atas khilaf kepada semuanya. Dan terima kasih atas kontribusi Infak Intelektual kawan-kawan semua sehingga kompi bisa eksis sampai sekarang.
Mari saling berjabat tangan memaafkan, seiring berkumandangnya ‘’takbir kemenangan’’ setelah satu bulan lamanya berpuasa. Semoga ke depan, kita bisa menjadi lebih baik, sebagai umat yang muttaqin, yang pada gilirannya bisa berkontribusi bagi agama dan pembangunan bangsa di masa depan. Salam KupatLepet. (Rosidi)

Undip Miliki Prodi Ekonomi Islam

Semarang, kompi.org – Persaingan Perguruan Tinggi Islam yang memilili jurusan (program studi) Ekonomi Islam, semakin luas. Sebab, kini tak hanya kampus berbasis Islam yang memiliki prodi ini, juga perguruan tinggi umum semisal Universitas Diponegoro (Undip) Semarang.
Mulai tahun akademik 2014/2015 ini, Undip membuka prodi Ekonomi Islam. Prodi ini di bawah naungan Fakultas Ekonomika dan Bisnis (FEB). Beberapa perguruan tinggi lain juga telah memiliki prodi Ekonomi Islam, yaitu Universitas Airlangga (Unair) Surabaya, Universitas Brawijaya (Unibraw)  Malang, dan Universitas Indonesia (UI) Depok.
Dekan FEB Undip Mohamad Nasir, sebagaimana dilansir Okezone, menjelaskan, ide membuka prodi Ekonomi Islam tersebut muncul sejak 2011. “Namun karena proses yang cukup panjang, mulai perijinan, belum adanya nomenklatur, hingga belum terpenuhinya beberapa persyaratan pembukaan prodi baru, maka prodi ini baru bisa dibuka tahun ini setelah mengantongi ijin dari Dikti.”
Proses penjaringan mahasiswa baru prodi Ekonomi Islam Undip, dilaksanakan melalui Ujian Mandiri (UM) S-1 dan Ujian Masuk Bersama Perguruan Tinggi (UMB-PT). “Tercatat sebanyak 440 calon mahasiswa mendaftar melalui ujian masuk Undip, namun hanya 20 orang yang akan diterima melalui jalur tersebut,” terangnya.
Sedang ujian tertulis jalur UMB-PT akan dilaksanakan pada 3 Agustus 2014. Rencananya, dari seleksi ini juga menampung sebanyak 20 orang, sehingga angkatan pertama prodi Ekonomi Islam berjumlah total 40 mahasiswa.
Nasir mengemukakan, dibukanya prodi Ekonomi Islam adalah dalam rangka menjawab kebutuhan sumber daya di bidang ekonomi di era global. “Kami ingin menyediakan sumber daya yang berkompeten skala nasional maupun global, khususnya di bidang Ekonomi Islam,” tuturnya. (A. Neira)

Manfaatkan Abu Vulkanik untuk Pengembangan Melon Tacapa

Yogyakarta, kompi.org - Tim peneliti melon dari Fakultas Biologi UGM yang terdiri atas Dr. Purnomo, Dr. Budi Setiadi Daryono, M.Agr.Sc, dan Ganies Riza Aristya, M.Sc., berhasil mengembangkan melon unggul Tacapa yang ditanam menggunakan media tanam campuran abu vulkanik sisa semburan Gunung Berapi Kelud.
Kesuksesan tim peneliti tersebut dibuktikan dengan kesuksesan panen raya melon kultivar Tacapa yang dibudidayakan di lahan Jamusan, Kecamatan Prambanan, Sleman, yang menggunakan komposisi media tanam mengandung abu vulkanik.
Budi Setiadi Daryono mengatakan, kegiatan penelitiannya didanai LPPM UGM melalui hibah Teknologi Tepat Guna (TTG). Tim menggunakan melon yang ditanam dengan perbandingan 3 perlakuan, antara lain ditanam hanya menggunakan campuran tanah dengan abu vulkanik, campuran tanah dengan abu vulkanik yang diberi pupuk kocor sintetik secara berkala, dan dibandingkan dengan lahan kontrol campuran tanah dengan pupuk sintetik.
“Hasil yang kami didapat menunjukkan, melon yang ditanam pada lahan dengan 3 perlakuan memiliki karakteristik tidak jauh berbeda, baik segi ukuran, rasa, bentuk, maupun berat buah melon Tacapa,” terangnya, Jumat (25/7/2014) sebagaimana dilansir ugm.ac.id.
Budi mengutarakan, potensi abu vulkanik dapat digunakan sebagai campuran media tanam pengganti pupuk komersial. Dimanfaatkannya abu vulkanik sebagai media tanam diharapkan dapat memberikan public awareness, bahwa tak selamanya masyarakat mesti takut (was-was) terhadap bencana.
“Sudah saatnya kita ‘berkawan’ dengan bencana, seperti memanfaatkan apa yang telah diberikan dari adanya bencana. Apalagi Indonesia berada di jajaran Ring of Fire. Sehingga, fenomena abu vulkanik tidak akan terlepas dari Indonesia karena terdapat 127 gunung berapi aktif. Setiap saat kita harus siap,” paparnya.
Dr. Purnomo mengemukakan, capaian yang telah diperoleh dalam pengembangan melon unggul kultivar Tacapa, antara lain tahan terhadap jamur tepung powdery mildew, potensial dikembangkan di lahan kritis karst dalam upaya konservasi lahan, serta dapat dibudidayakan menggunakan media tanam abu vulkanik.
“Capaian selanjutnya diharapkan antara lain benih-benih melon yang mempunyai karakter morfologis dan agronomis yang unggul, seragam dan stabil ini dapat disertifikasi dan diproduksi sebagai benih melon komersial unggulan nasional,” katanya. (A. Neira)
 
Support : Copyright © 2013. Kompi - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Much Harun
Proudly powered by Blogger