Berita Terkini :
Kompi.org. Powered by Blogger.

Pendidikan Kita: Dulu dan Kini

Judul Buku      : Pendidikan: Tokoh, Makna, Peristiwa
Penulis : Bandung Mawardi
Penerbit           : Jagat Abjad Solo
Tahun              : Cetakan 1, 2014
Tebal               : 149 halaman

Pendidikan selalu menjadi tema penting untuk dibahas. Posisi strategis pendidikan dalam ikhtiar kemajuan, membuatnya selalu punya kisah untuk terus disimak, ditelisik, dicermati, guna diperbaiki.
Ikhtiar memperbaiki pendidikan di Tanah Air tidak melulu hanya bisa digantungkan pada tangan para pengambil kebijakan dengan mengubah dan membuat kebijakan-kebijakan baru. Upaya itu bisa dilakukan dengan mendedahkan perjalanan pendidikan selama ini sehingga memancing kegelisahan-kegelisahan guna muncul kesadaran untuk melakukan tindakan dan berbagai pembenahan.
Buku dengan tampilan cover yang simple ini adalah satu upaya menarik penulis dalam mendedahkan perjalanan pendidikan di Tanah Air. Latar belakang penulis yang telah terbiasa menelusuri bermacam buku, membuat tema pendidikan diulas dengan luas, multiperspektif, dan, tentu, menarik.
Lewat 40 esai di dalamnya, penulis mendedahkan kisah pendidikan di tanah air, -dari tataran sejarah sampai peristiwa terkini. Dengan narasi dan kritiknya, penulis memantik ingatan-ingatan kita tentang pendidikan dari berbagai sudut.
Guru adalah satu pihak yang segera muncul dalam pikiran ketika berbicara tentang pendidikan. Sejak awal abad XX, kisah tentang guru adalah dilematis. Guru di masa kolonialisme sampai Orde Baru lebih memperlihatkan wajah susah.
Guru ada di persimpangan nasib, menjalani misi pendidikan dan menanggung lakon berat hidup keseharian. Kehidupan guru berisi kesusahan hidup karena keterbatasan ekonomi. Niat luhur pengabdian mendapat ujian lewat keterbatasan.
Namun, keadaan itu mulai sedikit-demi sedikit berubah di abad XXI lewat pemuliaan terhadap guru yang mulai terasa. Pemuliaan terhadap guru terlihat lewat kebijakan profesi, gaji, dan fasilitas. Tetapi hal ini pun memunculkan godaan baru; “guru berburu gaji” atau “guru kecanduan gaji” (hlm: 21). Laku hedonis dan materialis mulai muncul dan mengusik misi luhur mendidik.
Setelah guru, sekolah adalah kata yang segera terbayang. Sekolah terimajinasi ketika melacak berbagai literatur; buku, novel, sampai pada syair-syair pengarang. Tentang ini, penulis melihat Umar Kayam dalam novel Para Priyayi (1992) yang menarasikan tentang imajinasi sekolah sebagai pengubah nasib, memartabatkan dan memuliakan orang dari jenjang jelata ke dunia priyayi (hlm 24). Orang-orang mulai memandang sekolah sebagai tempat pengantar kemajuan. Sekolah menjadi tujuan yang didamba.
Lebih lanjut, sekolah di abad XX adalah simbol kecerahan masa depan. Penulis membaca hal ini lewat lagu-lagu yang tenar di telinga anak-anak di zaman itu. Ibu Soed menggubah lagu berjudul Pergi Beladjar (1943). Selamat beladjar, nak, penoeh semangat/Radjinlah selaloe tentoe kaoe dapat/Hormati goereomoe sajangi teman/Itulah tandanja kaoe moerid boediman (hlm: 80).
Penulis menangkap makna lagu ini sebagai gelimang doa dan gairah hidup yang dipanjatkan dan dipancarkan orang tua pada anak. Sekolah adalah podium menggapai cita-cita, yang selalu dibayangkan dan ditanamkan orang tua pada anak-anaknya.
Namun begitu, perjalanan pendidikan tidak berjalan mulus dengan dambaan-dambaan tinggi yang digantungkan pada sekolah. Makna sekolah perlahan berubah ketika politik pendidikan mulai lupa dengan misi luhur sekolah.
Tanda dalam puisi Kenangan Anak-anak Seragam (1988) gubahan Wiji Thukul yang berisi kritik model pendidikan Orde Baru; pada masa kanak-kanakku/aku jadi seragam/buku pelajaran sangat kejam/aku tidak boleh menguap di kelas/aku harus duduk menghadap papan di depan/sebelum bel tidak boleh mengantuk.
Sekolah adalah ambisi ideologis, membuat hegemoni dan kepatuhan politis (hlm 119). Murid dikondisikan dalam suasana penuh ketaatan dan kepatuhan. Sekolah mewujud seperangkat peraturan yang jauh dari kegembiraan dan tawa canda masa kanak-kanak. Misi luhur memanusiakan manusia mulai tercerabut oleh kuasa politis.
Tak hanya memancing ingatan masa lalu. Buku ini juga memberi gambaran pendidikan kita dewasa ini. Dalam esai yang berjudul Politik dan Pendidik(an) tertuang “nasib” pendidikan yang dijamah urusan politik.
Dicontohkan seorang capres yang pada masa kampanye lalu mendekati elite intelektual; guru besar, mantan rektor, dan para cendekiawan. Elite politik mencoba mendandani diri sebagai ikon pendidikan, pamer pemikiran dan janji. Sekolah dan universitas dianggap sumber suara (hlm: 139). Pendidikan saat ini telah jauh mengabur dari kesakralan pemanusiaan, dan tercemari ambisi individu dan kelompok, sehingga hajat luhur kemanusiaan makin kabur.
Belakangan, persolan pendidikan makin kompleks. Tak hanya soal guru, belenggu politik, atau yang rutin, kurikulum. Kekerasan yang terjadi di lingkungan sekolah menjadi soal mendasar yang memperlihatkan jauhnya realitas pendidikan kita saat ini, dengan cita-cita, angan, dan harapan kita; pendidikan (sekolah) sebagai ruang damai tempat penyemaian tunas-tunas muda guna membangun bangsa.
Alih-alih untuk menyemai, akhir-akhir ini sekolah justeru terimajinasikan sebagai tempat dengan suasana mendekati rimba yang jauh dari kedamaian. Kekerasan seksual oleh guru, kekerasan dalam bentuk tawuran, bullying, bahkan sampai pada pembunuhan antar siswa, memperlihatkan betapa pendidikan telah jauh dari angan.
Kisah pendidikan akan terus berlanjut. Berbagai kebijakan dan kejadian dalam dunia pendidikan selanjutnya akan memperlihatkan; sejauh mana kemajuan telah dicapai, atau justeru pendidikan kita masih jalan di tempat karena dibelenggu persoalan klasik yang belum juga menemukan jawab.
Pendidikan menjadi misi abadi yang akan terus menghadapi berbagai tantangan seiring berjalanannya dinamikan kahidupan. Membaca esai demi esai dalam buku ini memberikan pemahaman, imajinasi, dan kesadaran.
Buku ini ibarat pengikat yang menghubungkan jaring-jaring ingatan, dan dengan lihai melilit perasaan kita tentang riwayat pendidikan di Tanah Air. Memberi gambaran tentang kisah, sistem, dan budaya pendidikan dari waktu ke waktu. (*)

Al Mahfud, penulis asal Kabupaten Pati, Jawa Tengah 

UBH Raih 4 Penghargaan di Lomba Bridge Nasional

Padang, kompi.org - Tim Bridge Universitas Bung Hatta (UBH) yang diwakili mahasiswa Program Studi (Progdi) Pendidikan Matematika Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan ini berhasil memperoleh 4 kemenangan dalam Kejuaraan Nasional Bridge Mahasiswa XVI yang diselenggarakan Gabungan Bridge Seluruh Indonesia (PB GABSI) di Asrama Haji Sukolilo, Surabaya, 9 - 16 Desember 2014.
Dalam kejuaraan ini, tim Bridge UBH ini mengikuti 5 kategori yang dipertandingkan. Yakni Kategori Beregu, Kategori Berpasangan, Kategori Piala Pahlawan, Kategori Pasangan Piala Pahlawan, dan Kategori Hari Bridge Nasional (HBN) dengan mengirim 4 mahasiswanya yang terdiri dari Dori Ermawan, Wewen Yuhendri, Ridho Suradi, dan Agung Dwi Saputra.
Dra. Rita Desfitri, M.Sc, Ketua Jurusan Pendidikan Matematika mengatakan secara keseluruhan, pertandingan ini diikuti 30 tim dari 30 universitas yang berbeda di seluruh Indonesia.
Dari lima kategori yang dipertandingkan, duta UBH berhasil meraih 4 penghargaan, yaitu untuk kategori beregu berhasil meraih juara IV, untuk kategori berpasangan berhasil mendapatkan juara III, sedangkan untuk Piala Pahlawan dan Piala HBN masing-masing memperoleh juara II.
Sebenarnya, katanya, untuk pertandingan beregu, tim UBH sejak awal bermain sangat bagus. Bahkan seperti yang ditulis buletin harian kejuaraan tersebut pada Rabu, 10 Desember 2014, Tim Bridge UBH tampil sebagai juara babak penyisihan.
“Tim Bridge UBH berhasil memenangkan 6 babak sesi pendahuluan dan meraih poin tertinggi diantara semua kontingan, karena berhasil mengumpulkan poin hampir sempurna, yaitu 99,1 VP disusul Untan-FTBC dengan poin 84,4 VP dan Universitas Gunadarma ditempat ketiga dengan 77,66 VP,” paparnya.
 Ia mengatakan hanya saja mungkin karena kelelahan, dan tidak mempunyai pemain cadangan, Tim Bridge Universitas Bung Hatta tidak masuk ke semifinal dan hanya berhasil meraih posisi ke empat.
“Bagaimanapun juga semua anggota tim sudah menampilkan kemampuan terbaik mereka, dan kita sangat mengapresiasi hasil kerja dan semangat mereka yang sangat bagus,” imbuhnya.
Pembina Tim Bridge Pmat, Drs. Fazri Zuzano, M.Si., menyampaikan, untuk pertandingan-pertandingan berikutnya di masa yang akan datang, mungkin diperlukan juga mengirimkan peserta cadangan sehingga stamina mereka tetap terjaga selama mengikuti kompetisi.
“Kita sangat mensuport kegiatan kemahasiswaan, dan juga mendorong mereka untuk terus berprestasi sambil memperhatikan agar proses regenerasi juga berlangsung dengan baik, sehingga Tim Bridge UBH terus berjaya dan mengharumkan nama universitas kita tercinta,” ucapnya.
Wakil Rektor III UBH, Drs. Suparman Khan M.Hum mengapresiasi prestasi yang diraih mahasiswa UBH ini. “Selama ini tim bridge UBH sudah dikenal dengan memperoleh penghargaan dari kejuaraan yang digelar di berbagai wilayah, seperti Sumatra Barat, Riau dan Jambi,’’ katanya. (A. Neira)

Kamaba Rayakan Hari Jadi Blora di Yogyakarta

Yogyakarta, kompi.org - Sejumlah acara mewarnai perayaan Hari Jadi ke-265 Kabupaten Blora yang diselenggarakan oleh Keluarga Mahasiswa Blora (Kamaba) Yogyakarta di halaman Sekretariat Kamaba di Kota Pelajar.
Mendung tak menyurutkan antusiasme mahasiswa Blora yang ada di Yogyakarta mengikuti acara tersebut. Dari pagi hingga malam, hujan terus mengguyur Yogyakarta, namun kegiatan yang digelar Kamaba berjalan sesuai diharapkan.
“Kami bangga dengan sedulur-sedulur yang turut hadir dalam acara ini. Meski berada di luar daerah, tidak berarti kita terlepas atas segala sesuatu tentang Blora. Semoga ke depan Blora semakin maju,’’
Ketua IKPM Jawa Tengah, Dawamun’niam Al-Fatawi, pada kesempatan itu memberikan ucapan selamat atas Hari Jadi Blora ke-265. ‘’Blora memiliki banyak potensi. Semoga potensi yang ada bisa dimanfaatkan untuk kesejahteraan masyarakat,’’ katanya.
Dia mengutarakan, banyak sekali orang cerdas, namun orang cerdas yang peduli pada daerah, sangat sedikit. ‘’Kita mahasiswa yang notabene kaum intelektual, memiliki tanggung jawab akademik dan tanggung jawab sosial terhadap daerah kita dilahirkan, sehingga jangan sampai acuh terhadap kondisi daerah,’’ pesannya. (A. Neira)

Formi UMK Agendakan Festival Maulid #3 2015

Kudus, kompi.org - Setelah dua kali sukses menyelenggarakan Festival Maulid, tahun ini Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Forum Mahasiswa Islam kembali menggelar kegiatan serupa untuk kali ketiga. Pada Festival Maulid #3 2015 ini, Formi mengusung tema ''Meneladani Sifat yang Terkasih untuk Menggapai Ridho Yang Maha Kasih''.
Kegiatan antara lain akan disemarakkan dengan lomba kaligrafi untuk RA/TK se-Kabupaten Kudus (13/1/2015), lomba fotografi islami tingkat SMA (13-15/1/2015), seminar dan bedah buku ''Surga di Depan Mata'' bersama Habib Naufal Alaydrus (15/1/2015), lomba geguritan tingkat SMP se-Karesidenan Pati (13/1/2015), dan lomba rebana se-Jawa Tengah (14/1/2015). Informasi selengkapnya di 085747081669 (Huda) dan 085641177040 (Yusuf). (A. Neira)

Masih Minim, Jumlah Terbitan Buku di Indonesia


Jakarta, kompi.org – Jumlah buku yang diterbitkan di Indonesia masih minim, tidak sampai 18.000 judul per tahun. "Jumlah ini lebih rendah dibandingkan sejumlah negara, di antaranya Jepang yang mencapai 40.000 judul buku per tahun dan India 60.000 judul,” ujar Suharyanto, Pustakawan Perpusnas RI.
Menurutnya, budaya menulis dan budaya beli buku masyarakat Indonesia harus ditingkatkan, guna mengejar ketertinggalan dari negara-negara lain. ‘’Budaya menulis harus ditingkatkan,’’ tegasnya.
Koordinator FAM Wilayah Jabodetabek, Efri S. Bahri, Senin (15/12/2014), menyebutkan, salah satu buku yang diluncurkan FAM Indonesia pada pameran “Jakarta Library and Archives Expo 2014” di Lapangan Banteng Jakarta Pusat, 11-14 Desember 2014, adalah buku “Glosarium Istilah Perpusatkaan” karya Suharyanto.
Peluncuran buku tersebut dipandu Dosen STEI SEBI Hendro Wibowo dan Abang None Buku DKI Jakarta. FAM Indonesia untuk pertamakalinya mengikuti event “Jakarta Library and Archives Expo” yang merupakan gelaran tahunan di Ibu Kota.
“Buku ini adalah salah satu dari seratusan buku karya anak bangsa yang tergabung dalam Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia. Semoga terbitnya buku ini menambah daftar jumlah terbitan buku Indonesia,” ujar Efri.
Pada kesempatan yang sama, FAM Indonesia juga mengggelar Lomba Menulis 1.000 kata yang diikuti para pelajar, mahasiswa dan umum. "Lomba ini sebagai ajang kompetisi sekaligus berlatih menulis,” kata Efri S. Bahri.
Sesi pertama, peserta menulis 500 kata dalam waktu 20 menit. Pada sesi kedua, finalis berkompetisi menghasilkan tulisan 500 kata dalam waktu 15 menit. Pemenang lomba adalah Prihana Teguh Pambudi (Juara 1), Yuni (Juara 2), dan Riyas Yayuk Basuki (Juara 3). Para pemenang mendapatkan apresiasi berupa tropi dan sertifikat. (A. Neira)

Kader PMII Ashram Bangsa Dibekali Keterampilan Menulis


Yogyakarta, kompi.org - Badan Semi Otonom Rayon (BSOR) Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Fakultas Syariah dan Hukum UIN Sunan Kalijaga, Lembaga Pers Ashram Bangsa (L-Pab) membekali kadernya dengan keterampilan menulis.
Hal itu diwujudkan dengan menggelar sekolah jurnalistik, dengan mengusung tema “Ayo Menulis”. Sekolah jurnalistik ini digelar di Pendapa Hijau LKiS, Sorowajan, Bantul Yogyakarta, Sabtu (13/12/2014).
Pimpinan Umum L-Pab Abdul Rahman Wahid, menuturkan, kegiatan ini terselengara atas kerjasama dengan Suara Kampus Kedaulatan Rakyat (Swaka KR). ‘’Sekolah jurnalistik ini diikuti puluhan kader PMII Ashram Bangsa. Sementara sebagai narasumber yaitu Inus Krisno W dan Agung Wibawanto.’’
Dia menambahkan, dengan pelatihan penulisan ini, produktivitas menulis kader era 1990-an bisa ‘’menitis’’ kepada para kader yang ada saat ini. ‘’Kader PMII era 1990-an sangat menulis. Bahkan, berdirinya LKiS menjadi kiblat kajian keislaman di Indonesia merupakan hasil keseriusan kader PMII dalam kajian saat itu,’’ ungkapnya.
Inus Krisno menjelaskan, PMII pada saat itu memang terkenal dengan dunia tulis menulisnya. "Dulu, orang-orang PMII keterampilan menulisnya kuat. Tulisannya sering tembus di media massa, seperti Eman Hermawan, Hairus Salim, Marwan Ja’far, Umarudin Masdar, dan Zastro,’’ katanya sembari berharap masa keemasan kader PMII di dunia menulis akan lahir kembali.  (A. Neira)
 
Support : Copyright © 2013. Kompi - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Much Harun
Proudly powered by Blogger